Tampilkan postingan dengan label bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bandung. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Juni 2008

Aspal Jalan Braga akan Diganti Batu Alam

BANDUNG, TRIBUN - Arus lalu lintas Jalan Braga mulai pertengahan Juni 2008 akan terganggu dengan akan diadakannya pergantian jalan aspal dengan batu alam.


"Kami akan berkoordinasi dengan polisi, apakah ditutup total atau setengah jalan tergantung kajian polisi," ujar Kepala Dinas Binamarga dan Pengairan Rusjaf Adimenggela di Pendopo, Rabu (22/6).


Rusjaf mengatakan, pergantian aspal menjadi batu alam dari perempatan Naripan sampai perempatan Suniaraja untuk menghidupkan kembali Jalan Braga yang selama ini nyaris mati.


"Pembangunan jalan Braga sepanjang 650 meter dan lebar 7,5 meter membutuhkan waktu empat bulan dengan total biaya Rp 1,7 miliar dari dana APBD tahun 2008," ujar Rusjaf.


Rusjaf mengharapkan perubahan Jalan Braga mampu menarik wisatawan untuk datang ke Braga sehingga pertokoan Braga kembali hidup dan menjadi ikon Kota Bandung.


"Setelah Jalan Braga selesai diganti dengan batu alam, dijadwalkan setiap akhir pekan akan dilakukan penutupan total dengan menggelar kesenian dan wisata kuliner, pakaian dan cinderamata," ujar Rusjaf.


Menurut Rusjaf, penutupan jalan setiap akhir pekan untuk memberikan kesempatan kepada jalan kaki menikmati perubahan jalan batu alam tanpa ada kendaraan yang lalu lalang. (nip)


Sumber: http://tribunjabar.co.id/artikel_view.php?id=10901&kategori=7

Kamis, 24 April 2008

Pendekatan Budaya Negara Asia Afrika

PADA peringatan "Golden Jubilee" (Ulang Tahun Emas) Konferensi Asia Afrika tahun 2005 lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengharapkan agar momentum ini tidak hanya dimaknai sekadar acar seremonial, tetapi dengan menyatukan tekad dan upaya untuk mewujudkan terciptanya kerja sama kemitraan strategis baru Asia Afrika. Pada intinya, Presiden menegaskan pentingnya semangat baru Asia Afrika. Karena kalau kita melakukan perenungan, ternyata penjajahan telah kembali bercokol di muka bumi ini, tidak saja melalui senjata, namun melalui perang budaya. Melalui budaya itu, tanpa kita sadari sudah membelenggu kemerdekaan kita.


Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mungkinkah pendekatan budaya dapat meningkatkan kepedulian masyarakat di negara-negara Asia Afrika terhadap arti pentingnya KAA yang dilaksanakan 53 tahun lalu. Atau dengan kata lain, mungkinkah kemitraan strategis baru Asia Afrika dapat dicapai dengan pendekatan budaya?


Dalam kaitan inilah Pemerintah Provinsi Jawa Barat saat ini sedang mengusulkan pembangunan "Kampung Budaya Asia Afrika", suatu daerah wisata yang terdiri atas anjungan negara-negara Asia Afrika yang memiliki kekhasan masing-masing.


Dalam usulan itu disebutkan, tempat wisata tersebut memiliki luas sedikitnya 150 hektare. Masing-masing anjungan kira-kira menempati areal satu hektare. Sisanya antara lain akan dijadikan convention center dan bisa juga dilengkapi dengan hotel dan mal. Pada tahap awal, ide kampung budaya tersebut setidaknya diharapkan dapat didukung oleh 10 negara Asia Afrika.


Akan tetapi, hal yang lebih penting dari ide pembangunan KBAA adalah bukan segi fisik, melainkan roh dari kampung budaya tersebut. Dari tempat itu diharapkan "Semangat Bandung" makin terpancar di antara bangsa-bangsa Asia Afrika. Di tempat itu mereka membicarakan banyak hal, termasuk kerja sama ekonomi dan bisnis dalam upaya memajukan bangsa-bangsa Asia Afrika.


Dari sisi kepentingan nasional, ada aspek lain yang mengemuka, yakni perlunya memanfaatkan brand image Bandung sebagai "ibu kota Asia Afrika". Selama ini seolah-olah nama besar Bandung yang pernah menjadi tempat bersejarah bagi bangsa-bangsa Asia Afrika terabaikan.


Sebagai perbandingan, negara lain di Asia seperti Malaysia telah menghabiskan dana yang sangat besar untuk menciptakan citra baru negara itu sebagai "The Truly Asia". Demikian juga dengan Korea Selatan yang berkeinginan mencitrakan negaranya sebagai pusat kebudayaan Asia.


Pada saatnya nanti, KBAA tentu diharapkan dapat mendatangkan banyak wisatawan asing ke Indonesia. Datangnya wisatawan mancanegara itu akan bermakna sebagai diplomasi kebudayaan, di samping sebagai income generator. Selain juga sangat penting untuk menumbuhkan dinamika pariwisata, khususnya di Jawa Barat. ***


H.I. Budhyana

Penulis, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat.


Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=20218


Link Terkait: http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=20217