Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Maret 2009

Obama Marah dengan Bonus AIG

 
Obama Marah dengan Bonus AIG
BBC

WASHINGTON -- Presiden Barack Obama mengungkapkan kemarahan atas bonus sebesar US$ 165 juta yang dijanjikan kepada para eksekutif perusahaan AIG, yang dibantu pemerintah karena terancam kebangkrutan.

Presiden Obama menyebut bonus itu sebagai 'menyakitkan.' "Amat sulit untuk memahami para pedagang derivative di AIG dijamin mendapat bonus, sekitar US$ 165 juta sebagai bayaran tambahan," tuturnya.

Dan dia mendesak Menteri Keuangan, Timothy Geithner, untuk mengupayakan semua jalan hukum guna menghalangi pemberian bonus itu.

Belakangan jurubicara Gedung Putih, Robert Gibbs, mengatakan pembayaran dana berikut untuk membantu AIG akan diubah guna melindungi pembayar pajak.

Dia tidak menjelaskan bagaimana caranya, namun para pengamat mengatakan pemerintah bisa mengurangi dana --yang totalnya mencapai US$ 30 milyar-- sebesar US$ 165 sehingga AIG mencari dana bonus dari sumber lain. AIG mengumumkan pembayaran bonuis tersebut pada Hari Minggu.

Minta nama penerima

Dalam pidato peluncuran inisiatif untuk membantu usaha kecil menghadapi krisis ekonomi, Presiden Obama mengecam keras AIG.

"Di seluruh negeri, orang-orang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa bantuan dana dari pemerintah atau bonus miliaran dollar," katanya.

"Dan yang mereka minta adalah semua orang, dari Main Street ke Wall Street dan ke Washington, adalah aturan yang sama."

Uang sebesar US$ 165 juta dibayarkan kepada para eksekutif pada Hari Minggu, yang merupakan bagian dari total pembayaran bonus yang diperkirakan mencapai US$ 450 juta.

Jaksa Agung New York, Andrew Cuomo, mengatakan sudah mengeluarkan perintah hukum yang meminta AIG mengungkap nama-nama yang menerima bonus itu.

Namun AIG, katanya, menolak untuk menyerahkan daftar itu. "Jika sebuah perusahaan membayar dana yang secara praktis tidak dimiliki perusahaan, itu sama dengan mencuri perusahaan," katanya.

AIG masih belum memberi komentar atas langkah hukum itu namun jurubicara AIG mengatakan mereka melakukan kontak-kontak dengan jaksa agung.

Menyakitkan
 
AIG sudah menerima bantuan dari pemerintah Amerika Serikat sebesar US$ 180 milyar sejak terancam bangkrut pada Tahun 2008. Pimpinan AIG, Ed Liddy --yang ditunjuk pemerintah setelah perusahaan itu menghadapi masalah-- mengatakan sebelumnya bahwa bonus harus dibayarkan untuk memenuhi kontrak yang ditandatangani sebelum krisis keuangan.

Namun Liddy menambahkan bonus tahun ini sudah diubah dan dipotong sampai 30%. Bagaimanapun langkah itu masih belum cukup meredakan para senator Amerika Serikat.

Pemimpin Partai Republik di Senat, Mitch McConnell, tetap mempertanyakan bonus itu karena kontrak tidak menyebutkan masuknya dana negara. "Apakah mereka menandatangani kontrak dengan mengetahui sepenuhnya, bahwa secara praktis, pembayar pajak Amerika Serikat yang akan membayar para karyawan?"

"Khususnya para karyawan yang membuat mereka masuk ke dalam kekacauan ini. Saya kira ini menyakitkan," katanya seperti dikutip situs BBC.

Sementara itu anggota Senat dari Partai Demokrat, Elijah Cummings, juga ikut marah. "Ini sama seperti, ok kamu harus membantu saya untuk mengacaukan kamu. Dan saya akan ambil uang kamu dan menamparmu dengan uang itu." - ahi

Sumber: http://republika.co.id/berita/38170/Obama_Marah_dengan_Bonus_AIG

Senin, 16 Februari 2009

Hillary Tak Akan Bertemu Tokoh Lintas Agama RI



Foto :AFP
Jakarta - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Hillary Clinton hanya akan bertemu dengan Presiden SBY dan Menlu Hassan Wirajuda dalam kunjungannya ke Indonesia. Tidak ada pertemuan dengan tokoh lintas agama.

"Nampaknya waktunya sangat terbatas. Karena pada hari Kamis siang sudah bertolak ke negara lain. Yang baru disepakati pertemuan Menlu dan Presiden," ujar Menlu Hassan Wirajuda.

Hassan menyatakan hal itu menjawab pertanyaan apakah Hillary akan bertemu dengan tokoh lintas agama, saat jumpa pers di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (17/2/2009).

Hillary akan berkunjung ke Indonesia selama dua hari mulai Rabu (18/2/2009) besok. Kunjungan ini akan menjadi kunjungan pertama Hillary ke Indonesia.

Dalam pertemuannya dengan Hillary nanti, menurut Hassan, akan dibicarakan mengenai upaya meningkatkan hubungan kedua negara dalam cakupan partnership strategic.

"Akan dibicarakan kesamaan konsepsi itu sendiri. Bisa diduga perkembangan di kawasan ASEAN dan Asia Timur dan peran negara di kawasan ini dalam mencari solusi di kawasan krisis," kata Hassan.

Selain itu, juga dibahas isu-isu upaya penyelesaian konflik di Iran, dan isu-isu lain yang menjadi perhatian kedua negara.

Apakah juga akan dibicarakan soal proposal perdamaian Palestina yang pernah dibicarakan antara Wapres Jusuf Kalla dengan Wapres AS Joe Biden beberapa waktu lalu? "Kita tidak bicara spesifik mengenai itu," jawabnya singkat. (anw/iy)

Sumber:
http://www.detiknews.com/read/2009/02/17/120415/1086030/10/hillary-tak-akan-bertemu-tokoh-lintas-agama-ri

Senin, 03 November 2008

Obama Diasuh Nenek Saat Ibunya ke Indonesia

CAROLINA UTARA, TRIBUN - Sosok Madelyn Dunham (86 tahun) yang telah meninggal dunia Senin (3/11) tentu tak mudah dilupakan oleh cucunya, kandidat presiden dari Partai Demokrat Barack Obama.

Dunham lah yang mengasuh Obama sejak umur 10 tahun kecil saat ditinggal oleh ibunya yang berkerja di Indonesia.

Seperti dilansir Reuters, Obama mengatakan setelah mengunjungi neneknya sepekan lalu, dirinya kebanjiran karangan bunga dan kartu ucapan.

"Nenek kami adalah orang yang suka privasi, sehingga kami akan menghormati beliau dengan upacara pemakaman yang sederhana dan bersifat pribadi,'' kata Senator Illinois yang juga adik Obama Maya Soetoro. (ear)

Sumber: http://www.tribunjabar.co.id/artikel_view.php?id=24344&kategori=14

Obama Mengaku Sangat Kehilangan Neneknya

CAROLINA UTARA, TRIBUN - Kandidat Presiden dari Partai Demokrat Barack Obama mengaku sangat kehilangan sosok neneknya yang meninggal tepat sehari sebelum pemilihan presiden Amerika Selasa (4/11).

Kepada para pendukungnya saat kampanye terakhir, Obama mengatakan, sosok neneknya sangat penting baginya, karena neneknya lah yang membesarkannya

Seperti dilansir Reuters Selasa (4/11), Obama tiba di Carolina Utara untuk perjalanan kampanye sebelum hari pemilihan. Obama sendiri yang mengumumkan kematian neneknya yang bernama Madelyn Dunham (86 tahun) telah meninggal dengan tenang di kediamannya di setelah berjuang melawan penyakit kanker.

Lawan Obama dari Partai Republik John McCain, mengeluarkan pernyataan turut berduka cita dan turut memberikan dukungan moral buat Obama.

Dalam rangkaian kampanyenya, Obama sering menceritakan perihal neneknya yang sangat berjasa membesarkannya, setelah ibu Obama bercerai.

Sekitar seminggu lalu, Obama meninggalkan kampanyenya dan menempuh perjalanan 22 jam menuju Hawai untuk menengok neneknya yang sedang sakit. "Beliau adalah orang yang sederhana, sedikit bicara dan sangat rendah hati,'' kata Obama mengenang neneknya. (ear)

Sumber: http://www.tribunjabar.co.id/artikel_view.php?id=24340&kategori=14

Minggu, 27 Juli 2008

Saatnya Warga Muslim AS Ambil Sikap terhadap Obama

Warga Muslim AS kecewa dengan sikap Barack Obama-kandidat presiden AS dari Partai Demokrat- yang bersikap apatis terhadap keberadaan warga Muslim yang ingin mendukung dirinya. Padahal jumlah warga Muslim yang memiliki hak suara dalam pemilu presiden AS bulan November mendatang, cukup signifikan.

Melihat sikap apatis Obama, sejumlah warga Muslim di AS mulai berpikir untuk melakukan sesuatu agar mata Obama terbuka bahwa suara warga Muslim dalam pemilu presiden di AS tidak bisa diremehkan.

"Warga Muslim perlu membuat Obama tahu bahwa ia harus mendapatkan suara dari kalangan Muslim, " kata Saaqib Rangoonwala, redaktur pelaksana majalah Muslim InFocus.

Ia menyatakan, biar bagaimanapun para kandidat presiden AS membutuhkan suara warga Muslim Amerika dalam pemilu nanti dan inilah saatnya warga Muslim untuk bersikap.

Rangoonwala menyayangkan sikap Obama yang selama kampanye terkesan menghindari komunitas Muslim. Obama misalnya, lebih sering mengunjungi gereja-gereja dan sinagog dan belum pernah berkunjung ke masjid-masjid di AS untuk berdialog dengan warga Muslim Amerika.

"Warga Muslim juga layak mendapatkan kesempatan berdialog dengan Obama, seperti kelompok-kelompok masyarakat lainnya yang sudah dikunjungi Obama, " ujar Rangoonwala.

Jumlah warga Muslim di AS saat ini dipekirakan sekitar enam sampai tujuh juta jiwa dari 300 juta jumlah penduduk AS dan lebih dari dua juta Muslim AS terdaftar sebagai peserta pemilu. Menurut survei Pew Forum on Religion and Politics, mayoritas warga Muslim AS, atau sekitar 63 persen adalah pendukung Partai Demokrat dan hanya 11 persen dari jumlah warga Muslim yang mendukung Partai Republik.

Council on American-Islamic Relations (CAIR) menyesalkan sikap Obama yang gagal melakukan pendekatan terhadap warga Muslim. Padahal, kata Ahmed Rehab-direktur eksekutif CAIR Chicago-warga Muslim sangat terkesan dengan isu-isu yang diusung Obama terkait masalah hak asasi manusia, perekonomian, imigrasi, Islamofobia dan perdamaian di Timur Tengah.

Dalam setiap kampanyenya, Obama selalu membanggakan dirinya sebagai pengikut gereja Trinitas-Persatuan Gereja Kristus-dan membantah tudingan bahwa ia sebenarnya seorang Muslim. Padahal ayah Obama yang asli Kenya adalah seorang Muslim, meski akhirnya menjadi seorang atheis. Sedangkan ibu Obama adalah perempuan kulit putih Amerika yang tidak memeluk agama apapun.

Warga Muslim AS asal Minnesota Abdulaziz Al-Salim mengaku sedih melihat sikap Obama, yang seolah-olah takut posisi politiknya hancur jika diasosiasikan dengan Muslim. (ln/iol)

Sumber: http://eramuslim.com/berita/int/8726153007-saatnya-warga-muslim-as-ambil-sikap-terhadap-obama.htm

Minggu, 30 Maret 2008

Andy F. Noya Lulusan Tehnik yang Cinta Jurnalistik

Minggu, 30 Mar 2008,



Sering Bikin Guru Takjub
Berkat acara Kick Andy, nama Andy Flores Noya, 47, melejit bak selebriti. Namun, pria yang khas dengan rambut kribo dan kacamata minus itu tetap lebih senang disebut jurnalis saja.

Orang hebat biasanya memiliki masa kecil yang tidak biasa. Itu bisa dibuktikan pada kehidupan seorang Andy F. Noya. Andy mengaku, saat kecil dirinya adalah seorang yang nyentrik. Penampilannya tidak karua-karuan. Ketika sekolah, dandanannya selalu lain daripada yang lain.

Kadang-kadang rambut kribonya itu dicat kuning, merah, atau warna apa saja asalkan keren. Sepatu yang biasa dipakainya model lars kulit yang dipilox warna-warni. Andy juga sering memakai kalung dengan liontin dot bayi. "Jadi, kalau sedang iseng, dotnya aku empeng. Mungkin, itu karena jiwa seni saya yang terlalu besar," katanya saat berbincang dengan Jawa Pos di kantornya, Jumat (28/3) lalu.

Tak ayal, kelakuannya itu kerap membuat gurunya takjub. "Beberapa guru malah bilang, mau diapakan ya anak ini? Tapi, guruku juga bingung karena aku berprestasi. Aku selalu jadi juara, bahkan juara umum satu sekolah," kenang pria kelahiran Surabaya, 6 November 1960 itu.

Meski prestasi sekolahnya nyaris tanpa "cacat", pendidikan sempat membuat hidup Andy terombang-ambing dalam kebingungan. Setamat SD Sang Timur, Malang, pada 1973, sang ayah, Ade Wilhelmus Noya, memasukannya ke Sekolah Teknik (ST) Negeri Jayapura.

Tamat ST pada 1976, Andy melanjutkan ke Sekolah Teknik Menengah (STM) di Jayapura untuk jurusan mesin. Pada 1979, ayahnya meninggal dunia. Sejak itu, Andy pindah ke Jakarta dan tinggal bersama salah seorang kakaknya. Sekolahnya ikut pindah ke STM Negeri 6 Jakarta.

"Masuk sekolah teknik karena orang tua. Waktu itu kan belum diberi kesempatan memilih. Lagipula, aku belum paham. Saat itu, masuk sekolah teknik supaya cepat kerja dan nggak dibiayai lagi," tuturnya.

Menurut Andy, kondisi ekonomi keluarganya memang tidak terlalu berkecukupan. Ayahnya bekerja sebagai tukang reparasi mesin tik. Ibunda, Mady Klaarwater, bekerja menjahit pakaian.

"Aku pernah merasa ketika remaja dulu, ’iya ya bapakku ini kok cuma betulkan mesin tik, nggak ada bangga-bangganya’. Sementara orang lain bilang bapaknya jadi inilah jadi itulah," kisahnya.

Tapi, lanjut Andy, belakangan dia mulai menyadari bahwa profesi itu tidak membatasi seseorang untuk memberikan nilai dalam kehidupan ini. "Karena aku merasa banyak sekali nilai hidup yang berguna dari orang tua, terutama ayah," ungkapnya.

Enam tahun sekolah teknik ternyata tidak menempa Andy untuk menjadi teknisi. Sebaliknya, bakat terpendam yang tidak dipelajari secara formal semakin terasah. Bakat itu adalah menulis dan menggambar.

Ketika SD, gambar Pangeran Diponegoro dan RA Kartini buatannya sampai dipajang di ruang kesusteran (istilah ruang kepala sekolah, Red.). Guru bahasa ketika itu juga mengatakan Andy pintar mengarang sehingga cocok jadi wartawan.

"Ada dua guru yang mengatakan seperti itu. Guru SD dan ketika ST. Waktu itu suka mengarang dan bikin puisi, katanya aku sebaiknya jadi wartawan. Pikirku waktu itu, wartawan itu apa? Kerjaannya apa?" ujarnya.

Setamat STM, anjuran dua guru itu ternyata makin kuat di pikirannya. Sebenarnya Andy dapat beasiswa jika mau kuliah jurusan teknik mesin karena dia menjadi juara umum di sekolah. Namun, hatinya tidak ke sana.

"Tanpa disengaja aku baca majalah ada tulisan bahwa jika Anda ingin jadi wartawan di Sekolah Tinggi Publisistik (sekarang Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Red). Nah! Ini sekolah saya. Sebenarnya nyaris tidak diterima karena dari sekolah teknik. Dengan segala cara akhirnya rektornya mengizinkan. Bahkan, masuk semester dua disuruh siap-siap jadi asisten dosen," ungkapnya.

Bakat menulis dan menggambar Andy semakin tersalurkan setelah dia menyandang status mahasiswa. Andy sering kirim artikel, karikatur, dan kartun ke beberapa media dan dimuat.

"Dulu itu kartun dimuat bayarannya Rp 4 ribu, karikatur Rp 15 ribu, dan cerpen Rp 15 ribu. Aku ambil setiap bulan. Kadang juga jual kartu ucapan dari karton aku lukis pakai cat air jual Rp 3 ribu. Lumayan, untuk tambahan karena aku juga dikasih ongkos sama kakak walau tidak banyak," ulas Andy yang bisa melukis karena keturunan ayahnya itu.

Pada 1985, majalah Tempo membuka lamaran bagi para calon reporter untuk proyek pembuatan buku Apa Siapa Orang Orang Indonesia. Andy ikut serta dan sejak saat itu dia kenal lingkungan media tersebut.

"Tiba-tiba waktu di toilet ketemu orang Tempo, namanya Rahman Toleng. Katanya, aku siap-siap jadi wartawan majalah Tempo, Pak Goenawan Muhammad tertarik. Saat itu aku memang produktif dan katanya tulisannya paling bagus," kisahnya.

Tapi, Andy akhirnya memilih jadi wartawan harain Bisnis Indonesia yang baru saja didirikan oleh orang Tempo, Lukman Setiawan. Satu setengah tahun kemudian, dia diajak pindah ke majalah Matra oleh Fikri Jufri sampai 1992. Lalu, di Media Group sampai 16 tahun lamanya. "Kuliah saya nggak tamat. Sejak masuk proyek Tempo, kakak saya sudah nggak mampu lagi biayain," ceritanya.

Terhitung sudah lebih dari dua puluh tahun Andy menjadi seorang jurnalis. Lewat acara Kick Andy, namanya kini makin dikenal. "Tapi, aku terganggu dengan stigma jadi selebriti. Aku tetap jurnalis. Selebriti itu kesannya artis, orang terkenal yang kerja di dunia hiburan," katanya. (sugeng sulaksono/ayi)

Sumber: http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=333389