Tampilkan postingan dengan label konflik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label konflik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Agustus 2009

Ilusi Keamanan di Iraq


Lebih 100 orang tewas dalam serangan bom selama tiga hari di berbagai wilayah di Iraq. Serangan diarahkan ke kota Bagdad dan Mosul, pada hari Jum’at dan Senin. Serangan ini merupakan terbesar sejak pasukan AS di tarik dari kota-kota Iraq.

Serangan ini menjadi berita-berita utama di berbagai media internasional, di mana total korban yang tewas akibat serangan itu mencapai 157 orang, peristiwa yang mengerikan berlangsung di awal Agustus. Peristiwa ini menjadikan pemerintahan Iraq, nampaknya gagal menciptakan kondisi aman di seluruh Iraq, pasca pasukan AS ditarik dari kota-kota di Iraq, sejak Juni lalu.

Sejauh ini yang menjadi target sasaran aparat keamanan, kantor pemerintahan, dan kota-kota Syiah. “Serangan yang sekarang ini adalah Al-Qaidah, dan mereka melakukan koordinasi dengan menggunakan teknologi tinggi”, ucap Jendral Abdul Karim Khalaf. Dan, belakangan ini konflik antara golongan Syiah dan Sunni, semakin memuncak, dan ini adalah buah dari politik divide et impera, yang dijalankan AS, yang dapat mendorong pemerintah Nur Maliki akan meminta kembalinya pasukan AS.

Situasi keamanan yang diharapkan akan semakin membaik pasca penarikan pasukan AS, justru yang terjadi sebaliknya, di mana sejak Agustus ini, terus mengalami eskalasi yang sangat dahsyat, serangan bom yang berlangsung diberbagai tempat di Iraq. Meskipun, pemerintahan Nur Maliki, masih tetap yakin dapat menjaga keamanan kota Bagdad, dan bahkan seluruh wilayah Iraq, pasca penarikan pasukan AS dari negeri itu.

Nanun, menurut Alia Nusasif Jasim, anggota parlemen, yang bergabung dalam group komite anti korupsi, yang menegaskan milyaran dolar,yang raib dan tidak jelas rimbanya. “Sekarang, korupsi menjadi ancaman terbesar bagi Iraq, karena semuanya lembaga yang ada di Iraq terlibat dalam korupsi, termasuk lembaga keamanan, dan dari situ mereka mendapatkan pekerjaan”, ucap Jasim. (m/bbc)

Sumber: http://www.eramuslim.com/berita/dunia/ilusi-keamanan-di-iraq.htm

Rabu, 25 Maret 2009

Yaman Tahan 6 Anggota Al Qaeda




Sanaa - Otoritas Yaman menahan enam tersangka yang diduga merupakan anggota kelompok militan Al Qaeda. Mereka dicurigai hendak menyerang instalasi minyak dan turis-turis asing di negara Arab.

"Petugas berhasil menangkap enam orang yang ditunjuk untuk menjalankan aksi terorisme," kata Menteri Dalam Negeri Yaman, Mutahar al Masri, seperti dikutip dari reuters, Rabu (25/3/2009).

Mutahar melanjutkan, pihaknya masih memburu tersangka lainnya.

"Al Qaeda merencanakan 12 aksi terorisme di instalasi perminyakan dan para turis asing," jelasnya.

Bulan Maret ini, imbuhnya, sebuah bom bunuh diri meledak dan menewaskan empat turis asal Korea Selatan.

Menurut Mutahar, aksi pengeboman di Yaman berdasarkan perintah pemimpin sayap regional Al Qaeda untuk menyerang pendatang non muslim.

(irw/irw)

Selasa, 27 Mei 2008

Kapolri Tak Mau Minta Maaf

SINGLE FIGHTER: Mahasiswa melempari para polisi yang akan membubarkan aksi mereka di Jalan Mayjen Sutoyo, Jakarta Timur, kemarin (26/5).


Anggap Penyerbuan ke Unas untuk Jamin HAM Masyarakat

JAKARTA - Penyerbuan Universitas Nasional (Unas) yang dilakukan oleh polisi telah memunculkan protes dari berbagai kalangan. Komisi III DPR yang membidangi hukum, misalnya, langsung membentuk panja (panitia kerja) yang mengusut kasus tersebut. Sebelumnya, Komnas HAM juga membentuk tim investigasi.


Menghadapi tekanan publik yang memojokkan korps kepolisian, Kapolri Jenderal Pol Sutanto kemarin menggelar jumpa pers khusus di Mabes Polri terkait insiden penyerbuan kampus Unas. Menurut dia, polisi bukan mengebiri demokrasi, tapi mengawal demokrasi sesuai koridor hukum. Untuk itu, tak ada permintaan maaf.


"Tiap demo, sesuai dengan UU yang dibuat pemerintah dan DPR, ada aturannya, yakni sampai pukul 18.00. Tugas kami melayani dan mengamankan supaya unjuk rasa bisa tertib dan kami tidak diperlengkapi alat (mematikan, Red)," katanya.


Kapolri didampingi jajarannya. Misalnya, Irwasum Komjen Pol Jusuf Manggabarani, Kabareksrim Komjen Pol Bambang Hendarso Danuri, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Adang Firman, Deops Polri Irjen Pol Rubiani Pranoto, dan Kadiv Humas Irjen Pol R Abubakar Nataprawira.


Kejadian di Unas pada Jumat (23/5) itu berawal dari demo mahasiswa yang menolak kenaikan harga BBM. Para pendemo tersebut membakar ban bekas dan sempat menutup Jalan Sawo Manila, Jaksel, di depan Unas. Terjadi bentrok saat polisi membubarkan demo tersebut.


Lantas, Sabtu pagi, polisi menyerbu kampus Unas untuk membubarkan demo yang tetap berlanjut. Polisi menyeret dan memukuli sejumlah mahasiswa sehingga kampus itu berdarah. Selain itu, kaca dan kondisi kampus banyak yang berantakan.


"Yang terjadi di Unas kan demo sampai malam dan masyarakat setempat merasa terganggu. Kita sudah nego dan bertahan, tapi tidak bisa. Jadi, yang kami lakukan itu menjamin hak asasi masyarakat luas. Ini garis bawahi betul," jelas Kapolri.


Menurut dia, polisi punya kewajiban melindungi hak asasi masyarakat yang lebih luas dibanding demonstran yang terbukti melanggar hukum.


Saat disinggung apakah perlu polisi meminta maaf atas segala kerusakan dan kekerasan yang terjadi di Unas pada Sabtu kelabu itu, Kapolri menjawab, "Saya minta rekan-rekan pahami, demokrasi baik jika dikawal penegakan hukum yang kuat. Kita harus memperkuat. Termasuk Saudara-Saudara (wartawan) juga memperkuat." Menurut dia, juga tak ada pelanggaran HAM dalam peristiwa itu.


Menurut lulusan Akpol terbaik angkatan 73 itu, polisi bukannya tidak berbenah diri. Selain protap pengendalian massa saat ini, dan polisi dilarang membawa senjata api, juga ada sejumlah perbaikan, seperti pemberian materi HAM sejak pendidikan polisi di level awal. Karena itu, tidak mungkin polisi di lapangan melakukan perusakan. Tapi apa pun, polisi akan mengevalusi kejadian semacam itu supaya tidak terulang kembali.


Pascabentrok Unas, sesuai protap, Irwasum dan Propam turun ke lapangan. "Jangan sampai (kasus) ini dimanfaatkan pihak ketiga," tegasnya.


Mantan Kapolda Sumut itu menengarai peristiwa tersebut tak lepas dari upaya pihak-pihak tertentu yang ingin mengacaukan kondisi bangsa. Buktinya, dimulai kabar tertembaknya mahasiswa UI, Budi Darma, saat demo di gedung MPR/DPR Rabu lalu (21/5).


Juga isu melalui SMS akan ada kerusuhan besar di Jakarta pada Jumat sampai Minggu (23-25/5) dan isu hilangnya tiga mahasiswa Unas pascabentrok (24/5). Polisi juga masih menyelidiki siapa pemilik dua granat nanas yang ditemukan di Unas pascabentrok. Namun, Kapolri yang akan pensiun pada September 2008 itu tidak menyebutkan siapa pihak yang hendak memancing di air keruh tersebut.


Sementara itu, Irwasum -usai jumpa pers yang berlangsung 30 menit- mengatakan, pihaknya masih memeriksa sejumlah anggota polisi yang terlibat dalam bentrok berdarah itu. Karena itu, dirinya belum tahu hasil pemeriksaan. Termasuk apakah harus ada yang bertanggung jawab, mulai level Kapolrestro Jakarta Selatan Kombespol Chairul Anwar atau bahkan hingga level Kapolda.


Namun, apakah polisi dibenarkan menganiaya? "Upaya paksa yang dilakukan polisi seimbang dengan tekanan yang dia terima. Jadi, kalau (pelaku) ngamuk, ya harus dilumpuhkan dan baru dibawa ke kendaraan," jawab Jusuf yang pernah tersandung kasus UMI Makassar dan dicopot dari jabatan Kapolda Sulsel pada 2004 lalu itu. Bukti tayangan TV yang memperlihatkan aksi anarkis sekelompok polisi menggebuki mahasiswa Unas belum bisa dijadikan pedoman.


Begitu pula sikap Kapolda Metro Jaya. Dia membantah informasi yang menyebutkan bahwa dirinya telah menonjobkan Kapolrestro Jakarta Selatan. "Tidak benar itu. Tidak semudah itu. Kita tunggu hasil pemeriksaan internal," tambahnya. Pihaknya juga belum langsung mengganti kerugian yang diderita Unas dengan alasan belum tentu anak buahnya yang merusak.


Sumber koran ini di lingkungan Mabes Polri mengatakan, salah satu skenario untuk memperbaiki citra Polri sebagai buntut kasus Unas adalah mengambil tindakan di level Kapolrestro.


Mendiknas Bambang Soedibyo pun sepenarian dengan Kapolri. Dia memahami apa yang dilakukan mahasiswa. Namun, seharusnya aksi tersebut tidak anarkis. "Caranya jangan melanggar," kata Mendiknas usai rapat kerja bersama Komisi X di DPR kemarin (26/5). Menteri asal PAN itu menambahkan, tidak ada kampus yang steril terhadap hukum.


Menko Polhukam Widodo A.S. bahkan bersikap lebih keras. Dia berjanji bahwa pemerintah akan mencari dalang di balik bentrok Unas. "Kita mempercepat penyelesaian proses hukum dan mencari pihak-pihak yang berperan memprovokasi kekerasan," katanya dalam jumpa pers di Kantor Menko Polhukam siang kemarin. Hadir dalam acara yang dihelat pukul 11.00 itu Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso, Kepala BIN Syamsir Siregar, dan Jaksa Agung Hendarman Supandji. Kapolri juga datang sebelum mengadakan jumpa pers khusus di Mabes Polri sorenya.


Menurut Widodo, langkah polisi juga didasarkan laporan dari masyarakat. "Mereka (demonstran) sudah diberi toleransi. Tapi, sampai pukul 04.30 menjelang azan subuh, mereka justru menyerang aparat. Masyarakat yang hendak menunaikan salat merasa terganggu dan meminta bantuan polisi untuk bertindak," katanya.


Karena itu, mantan Panglima TNI itu optimistis tindakan polisi masih dalam jalur yang benar. "Justru kami mengingatkan pengunjuk rasa agar mewaspadai pihak-pihak luar yang memanfaatkan aksi itu untuk kepentingan tertentu," katanya.


Namun, penjelasan itu tak meredam kalangan legislatif dan Komnas HAM. "Polisi sebenarnya tahu siapa yang dihadapi. Mahasiswa itu manusia Indonesia yang paling tidak punya kepentingan ketika berjuang," kata anggota DPD I Wayan Sudhirta di gedung DPR kemarin.


Dia menyesalkan tindakan polisi yang cenderung berlebihan. Misalnya, menginstruksi para mahasiswa jalan jongkok dan memukul secara membabi buta.


Dia mengingatkan, ujian terberat bagi Polri setelah tidak sepayung dengan TNI adalah mampu atau tidak melakukan kontrol dan pengawasan internal. Kasus Unas akan jadi batu ujian. "Kalau terbukti tidak mampu, gagasan menempatkan kepolisian di bawah kontrol Mendagri bisa menjadi kenyataan seperti di negara maju," katanya.


Komnas HAM juga maju satu langkah. Komisi pimpinan Ifdhal Kasim itu telah membentuk tim khusus untuk menindaklanjuti temuan sementara Komnas HAM. "Kami sudah membentuk tim yang dipimpin komisioner Nur Kholis," ujar Wakil Ketua Komnas HAM Ridha Saleh kemarin (26/5). Keputusan itu diambil dalam rapat koordinasi komisioner Komnas HAM.



Panja Universitas Nasional


Aksi kekerasan aparat kepolisian di Kampus Universitas Nasional (Unas) menuai kecaman dari Senayan. Bahkan, Komisi III DPR memutuskan membentuk panitia kerja yang akan menginvestigasi perusakan kampus itu.


Keputusan tersebut diambil setelah Komisi III menerima perwakilan mahasiswa Unas kemarin (26/5). Selain itu, DPR akan mengundang kepala Polri dan jajaran pimpinan polisi di wilayah kejadian perkara. Mereka akan dimintai keterangan tentang kronolgi kejadian yang diduga ada unsur pelanggaran hak asasi manusia itu. "Dalam 2-3 hari pembentukan tim akan diselesaikan," ujar Ketua Komisi III Trimedya Panjaitan.


Tim tersebut akan melakukan investigasi di lokasi kejadian. Mereka akan mengumpulkan data tentang kerusakan fasilitas kampus, temuan dua granat nanas, hingga barang bukti narkoba. Hasil invenstigasi itu akan dijadikan bahan evaluasi dalam rapat kerja dengan Kapolri.


Bukan hanya mahasiswa Unas yang mendatangi Komisi III. Jajaran rektorat juga menghadap Ketua DPR Agung Laksono dengan agenda serupa. Mereka meminta dukungan legislatif agar mendesak kepolisian memenuhi janjinya mengusut tuntas kasus kekerasan di Unas. "Polisi melalui Kapolres Jakarta Selatan telah berjanji menindak oknum-oknum yang melakukan kekerasan dan perusakan di kampus," kata Rektor Unas Umar Basani saat bertemu pimpinan DPR.(naz/rdl/bay/pri/fal/cak/tof)


Sumber: http://www.jawapos.com/index.php?act=detail&id=10533

Kamis, 03 April 2008

Belanda Janji, Film Anti-Islam Kedua Setelah "Fitna" Tidak Akan Disiarkan

Ehsan Jami, warga Belanda keturunan Iran berjanji tidak akan mempulikasikan film buatannya, yang dikhawatirkan akan makin memicu kemarahan umat Islam, karena dalam filmnya Jami menampilkan sosok Nabi Muhammad yang disebutnya mengidap kelainan seksual.

Jami menyatakan memutuskan untuk tidak mempublikasikan secara luas filmnya yang diberi judul "The Life of Muhammad" itu dalam sebuah acara di Netwrek TV. Sebelumnya, Jami mengatakan akan merilis film tersebut pada 20 April mendatang dan klip film tersebut sempat ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi di Belanda. Dalam klip film itu, ditampilkan sosok seorang laki-laki yang disebut sebagai Nabi Muhammad Saw ditemani seorang isterinya, yang dikatakan masih berusia 9 tahun.

Dalam acara tv itu Jami mengatakan bahwa ia sudah diajak bicara oleh Menteri Kehakiman Belanda Ernst Hirsch Ballin tentang filmnya dan mengatakan bahwa penayangan film itu akan mengganggu keharmonisan masyarakat Belanda dan kepentingan nasional Belanda.

Kepastian bahwa Jami tidak akan menayangkan film anti-Islamnya, juga diungkapkan oleh anggota Dewan Kordinasi Muslim Belanda, Ayhan Tunja. "Saya bisa memastikan bahwa Ehsan Jami telah memutuskan untuk tidak menyiarkan film kontroversialnya itu, " tukas Tunja.

"Menteri Kehakiman sudah mengatakan pada Jami bahwa ia tidak akan bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi, jika Jami menyiarkan filmnya, " sambung Tunja.

Secara khusus ia berterima kasih pada pemerintah Belanda yang telah melakukan upaya untuk mencegah disiarkannya film anti-Islam kedua setelah film "Fitna" yang dibuat Geert Wilders.

"Kami sudah merencanakan pertemuan dengan menteri kehakiman untuk mempertegas bahwa film Jami sama sekali tidak bisa diterima dan akan memicu kekerasan di seluruh dunia. Kami lega, menteri sudah bereaksi cepat bahkan sebelum kami bertemu, " kata Tunja.

Lebih lanjut Tunja mengatakan, pemerintah Belanda tidak bisa melakukan hal yang sama pada Wilders, karena kasusnya berbeda. "Tak seorang pun menyaksikan atau tahu apa isi film Wilders sebelumnya, itulah sebabnya pemerintah tidak bisa berbuat sesuatu. Tapi dalam kasus Jami, bagian film kartunnya sudah ditampilkan di televisi terlebih dulu sehingga pemerintah bisa menyatakan bahwa materi film tersebut tidak bisa diterima, " jelas Tunja. (ln/iol)

Sumber: http://www.eramuslim.com/berita/int/8402095506-belanda-janji-film-anti-islam-kedua-setelah-quotfitnaquot-tidak-akan-disiarkan.htm

Mesir Cekal Edisi Khusus Majalah Der Spiegel Terbitan Jerman

Mesir memerintahkan pencekalan edisi khusus majalah Der Spiegel, majalan berita terbitan Jerman karena dianggap telah menghina Islam dan Rasulullah Muhammad Saw.

Der Spiegel edisi khusus yang terbit 25 Maret kemarin, memuat pernyataan seorang "orientalis" Jerman yang mengatakan bahwa Islam adalah bagian dari sekte Kristen. Kutipan lainnya dari seorang cendekiawan Jerman menyebutkan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kekerasan dan terorisme. Selain itu, Der Spiegel juga memuat sejumlah ilustrasi dan komentar yang melecehkan Nabi Muhammad Saw.

Surat kabar Mesir Al-Gomhuriya melaporkan, Menteri Penerangan Mesir Anas al-Fiqi mengambil keputusan mencekal majalah Des Spiegel edisi khusus itu, dengan alasan untuk "membela nilai-nilai Islam dan melawan segala upaya yang ingin merusak imej Nabi Muhammad Saw, Islam dan semua agama pada umumnya.

Fiqi, seperti dikutip Al-Gomhuriya mengatakan, Mesir tidak akan membiarkan publikasi apapun yang isinya merusak citra agama-agama monoteis, karena tindakan semacam itu tidak ada kaitannya dengan kebebasan informasi yang digembar-gemborkan Barat.

Bulan Februari lalu, Mesir juga melarang penjualan empat suratkabar bertaraf internasional, antara lain, Frankfurter Allgemeine Zeitung dan Die Welt terbitan Jerman, The Observer terbitan Inggris dan Wall Street Journal terbitan AS, karena telah ikut memuat kartun-kartun Denmark yang melecehkan Rasulullah. (ln/al-arby)

Sumber: http://www.eramuslim.com/berita/int/8403135014-mesir-cekal-edisi-khusus-majalah-der-spiegel-terbitan-jerman.htm

Fitna Tidak Dibuang, Indonesia Akan Blokir YouTube

Menteri Komunikasi dan Informasi Muhammad Nuh mengatakan, akan segera memblokir akses menuju situs YouTube, apabila dalam waktu dekat tidak juga menanggapi surat peringatan dari pemerintah Indonesia untuk segera menghapuskan film 'Fitna' yang dibuat oleh politisi Belanda, Geert Wilders, dan yang telah mendapat protes umat Isam.

“Kita memberikan batas waktu selama dua hari (semenjak kemarin) dan bila sampai waktu itu Fitna belum juga di-remove maka kita akan bekerja sama dengan ISP (Internet Services Provider) memblokir YouTube, ” ujar Nuh yang seusai menghadiri pengangkatan Mahfud MD sebagai hakim Mahkamah Konstitusi oleh Presiden di Istana Negara, Jakarta.

Nuh menambahkan, pemerintah telah melayangkan surat permintaan kepada pengelola YouTube, Senin(31/3) pagi, untuk segera menghapuskan film Fitna. Bahkan, untuk memperkuat permintaan tersebut, pemerintah juga telah melampirkan surat contoh dari Pemerintahan Kerajaan Thailand yang melarang dan mencabut penampilan film yang isinya diduga telah menghina Raja Thailand.

“Bagaimanapun yang bertanggung jawab atas isi situs itu adalah pengelola YouTube. Tidak mungkinkan kita yang edhel-edhel (mengacak-acak) muatan situsnya. Anggap saja Fitna itu muatan di dalam truk. Kan gak mungkin kita utak-atik isi truknya, ya pilihannya kita blok saja truknya, ” ujar Nuh yang mengaku belum menonton film yang dimaksud

Secara terpisah Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah Prof Komarudin Hidayat mengajak masyarakat untuk bijak dalam memprotes film Fitna, sSalah satunya seperti yang dilakukan mantan PM Malaysia, Mahathir Muhammad.

"Menurut saya Mahathir cukup rasional. Boikot saja, itu lebih elegan dan dampaknya juga lebih telak, " kata Komarudin usai bertemu Wapres Jusuf Kalla, di Kantor Wapres, Jakarta, Rabu (2/4).

Menurutnya, langkah tersebut lebih bijak ketimbang melakukan aksi bakar-bakaran. "Barat memang perlu dikasih pelajaran, atas nama kebebasan. Daripada bakar-bakaran lebih baik boikot saja, " tandasnya.

Komar mengakui, masyarakat muslim cepat terpancing untuk melakukan tindak kekerasan dalam menghadapi upaya menyudutkan Islam.

"Satu sisi Fitna itu tidak benar, tapi di sisi lain juga kritik pada umat Islam, agar dalam menghadapi masalah tidak dengan cara destruktif. Jangan umat Islam itu mudah sekali terprovokasi. Kalau ada apa-apa sedikit, langsung ramai, " imbuhnya. (novel/jn-ok)

Sumber: http://www.eramuslim.com/berita/nas/8402151252-fitna-tidak-dibuang-indonesia-akan-blokir-youtube.htm

Sabtu, 29 Maret 2008

Mahasiswa Balas Serang Balai Kota

Sabtu, 29 Mar 2008,

BENTROK: Mahasiswa memasuki Kantor Wali Kota Kendari kemarin. Mereka saling serang dengan pegawai pemkot.

Buntut Penyerbuan Polisi kee Kampus Unhalu
KENDARI - Hanya sehari setelah aksi penyerbuan polisi ke kampus Universitas Haluoleo (Unhalu) Kamis (27/3), Kota Kendari kemarin (28/3) kembali panas. Ribuan mahasiswa turun ke jalan. Aksi yang tak terkendali itu mengakibatkan mereka bentrok dengan pegawai pemkot. Akibatnya, kantor wali kota rusak.

Sebelum bentrok terjadi, sejak pagi para mahasiswa Unhalu mengadakan orasi di depan pintu kampus Tridharma Andounuhu. Dalam pernyataannya, mereka tegas mengutuk dan meminta pertanggungjawaban Kapolda Sultra Brigjen (Pol) Djoko Satriyo atas tindakan anggotanya yang masuk dan menyerang kampus mereka.

"Otoritas kampus ternoda. Provokasi yang menyebutkan adanya anggota polisi yang meninggal dan kemudian menjadi alasan melakukan penyerangan di rektorat itu hanya taktik," kata Wahid, ketua MPM Unhalu, membakar semangat rekan-rekannya.

Mereka menuntut Kapolda dicopot dari jabatannya. Bahkan, Wali Kota Kendari Asrun yang dianggap biang kekisruhan akibat kengototannya menggusur PKL juga diminta bertanggung jawab. "Ini revolusi kedua kami setelah 1998. Asrun harus diturunkan. Dia telah membuat kota ini menjadi berdarah. Asrun membenturkan sesama masyarakat dan preman. Asrun harus turun," kata Andi Safri, pengurus BEM Unhalu.

Rektor Unhalu Prof Mahmud Hamundu juga menyempatkan diri memimpin orasi mahasiswa di pelataran Rektorat Unhalu. Dia menyerukan bahwa yang dilakukan mahasiswa kemarin adalah upaya solidaritas atas saudaranya yang menerima tindakan tidak adil.

"Silakan sampaikan aspirasi anak-anakku ke DPRD. Tapi, jangan anarkis. Bedakan Anda seorang intelektual, bukan preman yang memorak-porandakan kampus kita," kata mantan ketua KNPI Sultra itu.

Mahmud juga menyampaikan hasil pertemuannya dengan Kapolda Brigjen (Pol) Djoko Satriyo Kamis (27/3) malam. Menurut dia, delapan mahasiswa sudah dibebaskan tanpa syarat. Kerusakan fasilitas Unhalu sepenuhnya menjadi tanggung jawab universitas, begitu pula sebaliknya.

Menurut rektor, Kapolda siap meminta maaf kepada civitas akademika Unhalu di media massa lokal. "Yang terpenting, semua menempuh langkah persuasif," katanya.

Setelah memberikan orasi, Mahmud melepas mahasiswa dengan warning. Silakan unjuk rasa ke DPRD, tapi jangan anarkis. Ribuan mahasiswa pun menuju DPRD Sultra tepat pukul 10.00 Wita. Di perjalanan, tak henti-hentinya masyarakat meneriakkan dukungan atas penolakan penggusuran PKL yang dilakukan Asrun.

Hari itu semula mahasiswa ingin menyampaikan aspirasinya ke DPRD Sultra. Namun, saat melintasi kantor wali kota, mahasiswa terpancing dengan ejekan sejumlah CPNS Pemkot. Mereka baru mengikuti orientasi, lengkap dengan alat kerja bakti.

Para CPNS yang tersisa itu kemudian melempari mahasiswa dengan batu dan lainnya. Mendapat respons, mahasiswa kian bersemangat. Terjadilah aksi saling lempar. Para pegawai pemkot terpukul mundur sehingga mahasiswa Unhalu leluasa melempari kaca-kaca kantor wali kota dan truk Satpol PP. Belasan motor yang parkir juga dirusak.


Propam Turun Tangan

Kasus penyerbuan polisi ke Kampus Universitas Haluoleo (Unhalu) Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (27/3), berbuntut panjang. Kendati tidak sampai mengirimkan tim khusus ke sana, Mabes Polri memberikan perhatian khusus pada kasus yang bisa memalukan korps baju cokelat itu.

"Tidak ada yang kebal hukum, (baik) aparatnya, mahasiswanya, atau orang pemda-nya," tegas Kabidpenum Polri Kombes Pol Bambang Kuncoko di Mabes Polri kemarin (28/3).

Menurut perwira menengah tersebut, Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Sultra telah meminta keterangan komandan yang saat itu mengendalikan aparat di lapangan. "Ini baru 1 x 24 jam. Kami belum tahu hasilnya. Dari pihak mahasiswa juga belum ada yang ditahan," katanya.

Apakah pertanggungjawaban sampai di level Kapolda? "Yang jelas, semua yang terlibat," ujarnya.

Namun, lulusan Akpol 1974 tersebut membantah soal penggunaan senjata api dalam penyerbuan polisi itu. Bambang mengungkapkan, yang ada hanyalah senjata pelontar gas air mata. "Itu senjata pelontar gas. Tidak untuk membinasakan, tapi melumpuhkan," ungkapnya.

Dalam Protap Dalmas (pengendalian massa) dan PHH (pasukan hura-hara) Standar Polri 2006 diatur, polisi tidak menggunakan peluru tajam untuk mengatasi unjuk rasa. Dalam status terburuk, yakni merah, saat massa sudah merusak hingga berbagai bentuk penganiayaan berat, yang bertanggung jawab adalah Kapolda. Dalam tingkat itu, PHH Brimob Polri yang mengambil alih pengamanan.(naz/el)

Sumber: http://www.jawapos.com/index.php?act=detail&id=10234